Just another WordPress.com site

FUNGSI-FUNGSI
KEPEMIMPINAN


Efektivitas kepemimpinan merupakan suatu hal yang sangat didambakan oleh semua pihak yang berkepentingan dalam keberhasilan organisasi. Namun demikian, belum terdapat kesepahaman tentang kriteria efektivitas kepemimpinan seseorang. Akan tetapi nampaknya telah diakui secara luas bahwa kemampuan mengambil keputusan merupakan salah satu kriteria utamanya. Yang dimaksud kemampuan mengambil keputusan adalah jumlah keputusan yang diambil yang bersifat praktis, realistik, dan dapat dilaksanakan serta memperlancar usaha pencapaian tujuan organisasi.

Kriteria lain yang dapat dan biasa digunakan adalah berkisar pada kemampuan seorang pemimpin menjalankan fungsi-fungsi kepemimpinan. Fungsi-fungsi kepemimpinan yang hakiki  menurut Sondang P Siagian (1994:47-48) adalah

  • Pemimpin selaku penentu arah yang akan ditempuh dalam usaha pencapaian tujuan,
  • Wakil dan juru bicara organisasi dalam hubungan dengan pihak-pihak di luar organisasi,
  • Pemimpin selaku komunikator yang efektif,
  • Mediator yang andal khususnya dalam hubungan ke dalam , terutama dalam menangani situasi konflik,
  • Pemimpin selaku  integrator yang efektif, rasional, objektif, dan netral.

Selaras dengan pendapat tersebut di atas, Kartini Kartono (1994: 81) mengemukakan bahwa fungsi kepemimpinan adalah memandu, menuntun, membimbing, membangun, memberi atau membangun motivasi kerja, mengemudikan organisasi, menjalin jaringan komunikasi yang baik, memberikan supervisi/pengawasan yang efisien, dan membawa pengikutnya kepada sasaran yang ingin dituju sesuai dengan ketentuan waktu dan perencanaan.

Dengan mencermati kondisi saat ini, kepemimpinan abad dua puluh satu kemungkinan akan menghadapi tuntutan yang semakin kompleks. Kondisi demikian menuntut penyesuaian atau bahkan perubahan kemampuan pribadi pemimpin. Pemimpin era mendatang dalam pemikiran Edgar H Schein (1992: 67-68) akan lebih banyak memiliki karakteristik:

¨       Tingkat persepsi dan wawasan yang luar biasa terhadap realita dunia,

¨       Tingkat motivasi yang luar biasa,

¨       Kekuatan emosional,

¨       Keterampilan baru dalam menganalisis asumsi kultural, mengidentifikasi asumsi fungsional dan disfungsional,

¨       Kemauan dan kemampuan untuk melibatkan orang lain serta menarik partisipasi mereka,

¨       Kemauan dan kemampuan untuk membagi kekuasaan serta kontrol.

Dengan demikian, pemimpin pada era mendatang adalah orang dengan karakteristik tersebut, yang dapat memimpin juga menjadi pengikut, menjadi sentral dan marginal, menjadi hirarkial di atas dan di bawah, dan menjadi individualistis dan pemain tim. Pemimpin era mendatang adalah seseorang yang menciptakan suatu budaya atau sistem nilai yang berpusat pada prinsip-prinsip seperti pemberdayaan, kepercayaan, ketulusan, pelayanan, persamaan, keadilan, integritas, kejujuran, dan self evidence.

Model kepemimpinan yang demikian menurut Stephen R Covey (1995: 152-153) akan melaksanakan fungsi atau kegiatan dasar:

  • Pathfinding (Pencarian Alur)

Esensi dan kekuatan dari pathfinding diperoleh dalam visi dan misi yang pasti. Pencarian ini membuat budaya dibekali dan terangsang mengenai suatu tujuan yang lebih bernilai.

  • Aligning (Penyelarasan)

Kegiatan pemimpin berupa upaya untuk memastikan bahwa struktur, sistem dan proses operasional organisasi memberi dukungan pada pencapaian misi dan visi.

  • Empowerment (Pemberdayaan)

Pemimpin harus mampu memberi semangat dan menggerakkan bakat, kecerdasan, dan kreativitas laten orang-orang yang dipimpinnya, sehingga mampu mengerjakan apa pun dan konsisten dengan prinsip-prinsip yang disepakati dalam mencapai nilai, visi, dan misi bersama.

Oleh karena itu, pemimpin pada era mendatang harus menyadari bahwa peranannya akan  berubah secara nyata. Menurut William C Steere Jr (1996: 272-274), hal tersebut membawa implikasi pada kepemimpinan era mendatang, yaitu :

¨       Harus lebih fleksibel dan mempunyai pengalaman yang luas

¨       Akan menganggap tanggung jawab seremonial atau spiritual menjadi suatu fungsi yang diperlukan

¨       Pembuatan keputusan tidak dapat dibuat secara efektif terpusat di puncak organisasi.

Dalam konteks kepemimpinan, John W Work (1996: 76-77) mengasumsikan bahwa pemimpin pada era mendatang harus bersedia menerima lima tantangan fundamental, yaitu:

  • Pemimpin harus mau menjadi lebih peka dan memahami semua perbedaan etnis, budaya, dan gender,
  • Pemimpin harus memiliki visi untuk tempat kerjanya
  • Pemimpin harus bersedia merancang dan mengimplementasikan proses-proses komunikasi yang baru dan berbeda,
  • Pemimpin harus bersedia membawa komitmen penuh dalam upaya mendayagunakan pengikut yang beragam secara efektif,
  • Pemimpin harus menjadi pasak antara organisasi dan masyarakat luas.

Namun demikian, pemimpin pada era mendatang tetap harus menemukan model sederhana yang dapat membantu keberhasilan kepemimpinannya. Dengan dasar pemikiran seperti itu, Dave Ulrich (1996: 212-217) menjelaskan tugas kepemimpinan masa depan adalah

*        Mengalihkan harapan menjadi tindakan

*        Menyandarkan pada asumsi-asumsi

¨       Dari kepemimpinan di puncak ke kepemimpinan bersama

¨       Dari kejadian satu kali menjadi proses berkesinambungan

¨       Dari juara individual ke kemenangan tim

¨       Dari pemecah masalah ke perintis

¨       Dari pemikiran unidimensional ke paradoksikal

Memerlukan kredibilitas pribadi dan kapabilitas organisasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: