Just another WordPress.com site

Orang berkedudukan tinggi (puncak pimpinan) tidak selamanya identik dengan EQ yang tinggi. Masalahnya, banyak diantara mereka yang dipilih pada posisi di atas karena perusahaan buru-buru ingin mencapai target dalam waktu singkat. Nah, banyak di antara pimpinan ini jagoan dalam mencapai target dan menyajikan angka-angka, soal bagaimana caranya, perusahaan kadang kala tutup mata.

Factor tuntutan inilah yang kadang membuat pimpinan puncak dengan tangan besi, ototriter dan tak peduli dengan suara-suara yang di bawah. Memang dalam waktu yang singkat memang menunjukkan hasilnya. Namun,dalam jangka pangjang banyak hasilnya yang berantakan. Konsekuaensinya adalah : buruknya semangat kerja, tim menjadi tidak kompak, kepuasan kerja yang rendah yang rendah. Akibat-akibat tersebut yang justru dalam jangka pangjang akan merugikan organisasi.

Ciri-ciri Eksekutif yang ber-EQ Rendah!

–          self awareness yang berlebihan. Akibatnya mereka seringkali jadi egois, self reference tinggi(sumber acuannya diri sendiri).

–          Self management, terkadang, mereka tidak bias mengontrol diri sehingga jadi tampak emosional, serakah, reaktif atau kesannya seenaknya. Sering terlihat “ kalau aku maunya yang ini ya, berarti harus inilah mesti dipenuhi”.

–          Sosial awareness, mereka menjadi sama sekali tidak peka bagaimana perasaan orang-orang yang ada di sekitarnya. Sehingga terkesan sosial skill mereka rendah.

Meningkatkan EQ para pimpinan

Hal ini tidak mudah dilaksanakan karena mereka ada di posisi puncak, di mana mereka terkadang tidak membutuhkan orang lain. Akibatnya mengubahnya pun tidak gampang. Tetapi jika diusahakan tentunya masih ada harapan. Bagaimana langkah-langkah yang bias dilakukan untuk membuat para pimpinan mau mengembangkan EQ mereka?

Ada tiga alasan yang mendasari adalah :

WHY, mengapa pentingnya pengembangan EQ bagi para pimpinan. Dari banyak contoh dapat dilihat bahwa banyak pimpinan yang jatuh karena rendahnya tingkat EQ mereka.

WHAT, apa yang perlu ditingkatkan yaitu 4 elemen kompetensi EQ menurut Daniel Goleman.

HOW, mendorong pimpinan untuk terus-menerus mengembangkan EQ mereka melalui 5 tips sederhana yaitu :

  • To read (membaca)
  • To learn (belajar dari yang lebih mampu)
  • To get mentor (meminta bimbingan)
  • To apply ( mencoba menerapkannya)

To the risk ( ambil resiko untuk melakukannya)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: